Monday, August 29, 2011

Pokoknya Sambel Goreng ala Mama

Bahan + bumbu:
  • Kerang / udang / ayam / lauk apa aja deh
  • Bawang putih
  • Bawang merah
  • Lombok besar
  • Daun jeruk
  • Garam, gula
  • Kecap manis

Cara masak:
  1. Campur lauk dengan garam dan gula
  2. Gongsong bawang putih dan bawang merah
  3. Tambahkan lombok, daun jeruk, dan lauknya
  4. Ketika air sudah sat, tambahkan kecap manis
  5. Masak sebentar, matang deh

Looks easy peasy!

*Resep diajarkan oleh Mama kepada anaknya si Acne Prone Wife yang sedang merantau dan lebih sering dimasakin suami ini

Thursday, August 25, 2011

Resep Sayur Kuah ala Suci

Bahan:
  • Kaldu (ayam/daging)
  • Potongan tahu halus
  • Wortel
  • Kocokan telur
  • Sawi / Pochai

Bumbu:
  • Merica, garam, gula
  • 1/2 sdt minyak wijen
  • Tumisan bawang putih (cincang) dan daun prei (potong tipis)

Cara masak:
  1. Didihkan kaldu
  2. Bumbui dengan merica, garam, gula
  3. Masukkan potongan tahu halus, wortel, kocokan telur
  4. Terakhir masukkan potongan sawi/pochai
  5. Tambahkan minyak wijen, tumisan bawang putih & daun prei
  6. Setelah mendidih langsung angkat supaya sayur tidak layu

Selamat mencoba!

*Resep diberikan oleh Suci kepada sepupunya si Acne Prone Wife yang sedang merantau ini

Monday, August 22, 2011

Eleven Hours in Brunei

Between my flight from Surabaya to Dubai, I had an eleven-hour-layover in Bandar Sri Begawan, Brunei. It wasn't a lot of time but I managed to snap these few random things (click for bigger pictures):

How streets and building look in Bandar Sri Begawan


A traditional market by the river.
We can ride on the boat, but the smell of the river was too much.


The hotel where I stayed for a couple of hours.
I like the logo.


For lunch I went to a shabby food court next to the hotel.
The sign made me pay attention to where I stepped.


If you're not an Indonesian, you might not find this picture amusing.
Indome - ayam - telur
Indome - cornbeef
Indome - mata lembu
Indome - skramble


Bandar Sri Begawan airport.
Everyone in Gate 5 wanted to go to London. It seemed that I'm the only one heading to Dubai.


Interesting things I found about Brunei:
  1. The cars are very polite. They always stop when people want to cross the street. (Unlike in Surabaya/Indonesia)
  2. There are only 400,000 people living in Brunei.
  3. The students had holidays in March (2 weeks), June (2 weeks), September (2 weeks or a month, I cannot remember), December (a month), and during Ramadan. Oh wow.
  4. The currencies used there are Brunei Dollar (BND) and Singapore Dollar (SGD) but they don't accept the gold coins of SGD for a reason nobody seems to know.
Goodbye for now, dear Brunei!

Menuju Suami

Today I feel like writing in Indonesian. So, here it is.

Akhirnya saya menyusul suami juga setelah enam bulan menjalani long-distance-marriage, setelah setahun lebih sebelumnya menjalani long-distance-pacaran.

Jujur, saya merasa seperti Siti Nurbaya yang dikawinkan melalui perjodohan (untungnya tanpa paksa). Semacam akan menemui orang baru yang cuma saya kenal lewat chatting. Tapi semoga ini bisa bikin banyak sparks seperti orang baru pacaran yang lagi hot-hotnya gitu ya.

Anyway, ini bukan kali pertama saya ke luar negeri, tapi jujur dodolnya mirip orang yang belum pernah naik pesawat. Sepertinya ini dikarenakan setiap kali bepergian saya tidak pernah sendiri. Dan itu membuat saya "seperti kerbau dicocok hidung," ngikut aja tanpa ngerti.

Dimulai dari kelebihan beban, membongkar koper di hadapan petugas demi mengeluarkan 3kg dan gawatnya lingerie macan (haummm) pemberian teman kok paling atas *plak*. Lalu salah jalan ke sana sini (ini sih biasa buat saya).

Yang agak memalukan sewaktu masuk pesawat, di tempat duduk paling depan ada cewek yang manissss sekali, saya sampai terpesona dan tidak memperhatikan nomer tempat duduk. Lagian nomer tempat duduk saya 26 jadi saya kira jauh di belakang. Eh sampai di tengah-tengah, flight attendant melihat tiket saya dan memberitahu nomer 26 itu tempatnya di paling depan.

Oops.

Untungnya sebelum saya berbuat lebih bodoh lagi dengan berusaha melawan arus jalan orang-orang dengan koper saya, si flight attendant menolong dengan menaikkan koper saya ke tempat di atas nomer... err... 42. Agak jauh ya.

Singkat cerita saya pun duduk di sebelah cewek yang manissss sekali tadi itu. Penerbangan saya pun indah. Marmut Merah Jambu tulisan Raditya Dika di tangan, cewek manissss di sebelah. Tapi sebagian besar waktu di pesawat saya ketiduran sih :|

Salam,
Acne Prone Wife
lagi bengong di hotel transit di Brunei
sebentar lagi mau foto-foto di pasar depan hotel