Friday, October 11, 2013

Write Down Your Dream (Just Kidding)

Write down your dream and it will happen.

Just kidding.

So six months ago I was thinking of moving out our parents' house, and I wrote it here. Who knows that last month the husband and I actually managed to buy a house--with some financial help from the family--. It is an old house and now we're renovating it.

Tadaaaa

So I wrote down my dream, and it happened. But I don't think they are cause and effect. I believe we managed to buy the house because God is willing to provide what we need. And because we know we need the house, we have made arrangement and careful budget to make it happen.

The process of finding the house opened our eyes that the search was led by God. We looked at a couple of houses and nearly made the purchase, but something always happened: the buyer of one house decided to cancel the deal, the certificates of another house was troublesome, etc. I almost gave up. But now when I look back, God "sabotaged" those houses because He had something better prepared for us.

There is nothing but gratitude in our hearts now. And we can't wait for the renovation to finish and actually move into that tiny beloved home.

Don't write your dream thinking that it will happen. Instead, commit your plans to the Lord, and figure out what He has in mind for you.

******

By the way, we are now debtors to a local bank, for 15 years. Oh yeah.

Tuesday, October 8, 2013

Toko Abeng yang keramat

Ini ceritanya Juni 2012. Tahun lalu, saat kami masih terdampar di Dubai. Hari itu kami ke daerah Al Karama dekat Bur Dubai, dan suami mengajak saya jalan-jalan ke salah satu tempat paling keramat untuk warga perantau dari Indonesia: Toko Abeng!

Selama berbulan-bulan tinggal di Dubai, saya hanya mendengar gosip-gosip tentang Toko Abeng dari percakapan seperti ini:

Ibu 1: Eh gula merah datang loh di Toko Abeng!
Ibu 2: Oh yaaaa, ayo buruan kita ke sana sebelum kehabisan.
Dan memang, jika tidak cepat-cepat, kami harus menunggu lama sebelum gula merah datang lagi di toko keramat ini.

Sebelum benar-benar datang ke Toko Abeng, saya membayangkan toko tersebut besar seperti supermarket. Bayangan saya salah.

Ternyata tokonya seuprit
Bisa dilihat barang-barang dagangan utama ada berdus-dus adalah Indomie (mie favorit di Dubai. Di supermarket saya sering lihat Indomie diborong orang-orang Emirati, Arab, India, dll), sambal botol (how can we Indonesians live without sambal botol, right?), Sosro (stok banyak!), dan pernak-pernik makanan dan bumbu dapur lainnya.

But the highlight of the day was this. I just have to take a picture of it:
 
MISTERI. Bikin Toko Abeng makin keramat aja.
Dan semua warga perantau Indonesia di Dubai pun bisa tetap update akan perjalanan mistis artis-artis Indonesia. Berkat Toko Abeng!

Jika pembaca butuh informasi tentang belanja bumbu dapur Indonesia di kota-kota lain di United Arab Emirates bisa klik di sini.

 

Thursday, October 3, 2013

Yen Berkisah: Kampungku Berau

Namaku Yen. Kampung halamanku di Kabupaten Berau, tepatnya di ibu kotanya: Tanjung Redeb, yang mungkin saat itu belum pantas disebut kota karena begitu kecilnya. Semua orang Berau saling mengenal berkat ukurannya yang mini dan suasana kampung yang akrab. Kami juga punya Sultan. Kapan-kapan aku akan ceritakan mengenai Sultan dan Pangeran dan Putri di Berau.

Huruf A itu Berau. Dekat hidungnya Om Kalimantan.
Diklik aja gambarnya supaya besar.
Gambar dari Google Maps.

Beberapa langkah dari rumahku ada sungai deras mengalir, bersih dan jernih seperti semua sungai di Kalimantan saat pulau besar ini masih pantas disebut paru-paru dunia. Kami anak-anak kecil suka berenang di sana, yang perempuan dengan baju lengkap dan rok lebar yang berfungsi sebagai semi-pelampung. Maklum, mana ada baju renang saat itu. Baju kami saja adalah jahitan Mama sendiri, satu atau dua baju untuk dipakai setahun. Gaya renang kami? Gaya suka-suka dan siap kabur dari sungai jika terlihat ada buaya hendak melintas.

Sungai deras mengalir. Dekat hutan paru-paru dunia. Mungkin kamu bayangkan betapa nyamannya kampung halamanku. Jangan lupa, kampungku di dekat khatulistiwa. Panas menyengat sepanjang siang. Makanya kami suka berenang. Meskipun ada buaya.

Aku lahir tahun 1951 di Berau. Anak keempat dari sembilan bersaudara. Indonesia belum lama merdeka. Tapi aku tidak begitu mengerti artinya. Cuma dari cerita-cerita Papa dan Mama aku tahu kejamnya Jepang dan betapa senangnya semua orang ketika Jepang diusir. Betapa semua orang memuja Soekarno. Meskipun tidak lama kemudian giliran kami orang Tionghoa yang mengalami kesulitan.

Rumah kami bentuknya rumah panggung. Di bawah rumah kami memelihara banyak ayam dan bebek. Betapa tidak higienisnya kehidupan kami dulu, tinggal di atas kerumunan ayam dan bebek. Anehnya kami  sehat. Orang-orang tua mati dengan tenang, dengan tiba-tiba, tanpa harus merana di ranjang rumah sakit seperti sekarang. Orang-orang muda mati kecelakaan saat disergap buaya atau saat melaut. Mungkin karena kehidupan kami dulu alami dan sehat? Itu kata orang. Tapi aku curiga dulu orang tiba-tiba mati karena tidak tahu dan tidak mengobati penyakitnya, karena dulu ilmu kedokteran belum maju.

Kami juga punya lusinan kucing dan burung dara. Sekarang orang takut pelihara kucing karena takut tidak bisa hamil atau terjangkit virus tokso. Heran sekali dulu kucing-kucing kami, yang tentu saja tidak pernah divaksinasi, tidak pernah menghambat kehamilan. Para wanita di keluarga kami lancar sekali melahirkan anak-anak yang sehat. Mungkin di Kalimantan tidak ada virus tokso. Mungkin.

Sudah aku bilang namaku Yen? Ijinkan sedikit demi sedikit kutuliskan ingatanku akan hidupku, dan pengamatanku akan hidup sebagai keturunan perantau di negeri orang, yang sudah kuadopsi menjadi negeriku. Atau negeri ini yang mengadopsiku? Ya. Mungkin.

Catatan penulis:
Yen Berkisah didasarkan pada kehidupan nyata.