Thursday, November 27, 2014

Review: Peye Guest House, Malang

Weekend lalu saya dan keluarga diundang ke pernikahan sepupu di Malang, dan diinapkan di Peye Guest House. Karena cukup terkesan dengan Guest House ini, maka saya menulis review. Semoga bisa jadi referensi buat teman-teman yang mencari Guest House di Malang ya.

Peye Guest House ini terletak di Jl. Simpang Dieng no. 1, Malang. Cukup mudah dicari sih, dia ada di dekat Plaza Dieng. Google Maps juga sangat jelas menunjukkan jalan ini.

Demikian penampakan depan Guest House-nya:

Peye Guest House tampak depan. Ada yang bisa baca tulisan hanacaraka di atas itu?
Kami semua yang menginap sudah lupa pelajaran Bahasa Jawa.

Lalu saat masuk kami disambut pengumuman ini:

Coba perhatikan logo Peye Guest House ini.

Sudah diperhatikan logonya? Nah, logo ini memicu perdebatan di antara kami sekeluarga. Apakah "Peye" dibaca seperti "peyek," temennya pecel itu loh, atau dibaca "peye," seperti huruf p dan y normal, ataukah dibaca "piyik," seperti logonya yang adalah anak ayam? Eh, tapi logonya itu anak bebek atau anak ayam sih? Anyway, kami sepakat memutuskan namanya adalah "Piyik" Guest House. Sungguh sebuah misteri kenapa sebuah Guest House dinamai anak ayam.

Misteri lain adalah nama-nama kamarnya:

Coba perhatikan nama-nama kamarnya. Ada nama-nama bunga, juga ada nama pelawak. Saya tidak paham.

Saya dan suami mendapat kamar Pantry. Bayangkan. Kami tinggal di Pantry, yang ternyata adalah salah satu kamar paling mahal, karena bisa diisi tiga orang. Oke deh, nama kamarnya saya maafkan.

Bukti kami tinggal di Pantry.

Bagian dalam kamar Pantry. Ranjang double dan ranjang single.
Foto dari website-nya si Peye.

Yang saya suka dari Peye Guest House ini adalah karena begitu masuk kamar, kamarnya terasa bersih dan baunya segar. Kan ada tuh kamar-kamar guest house atau hotel yang bau apek. Sprei dan ranjang juga segar dan tidak ada bau aneh sama sekali. Kamar mandi pun bersih dan nyaman dengan air panas, amenities, dan handuk baru yang diganti setiap hari.

Suasana di dalam Guest House ini juga dibuat alami, cocok sekali dengan udara kota Malang yang sejuk:

Pagi-pagi begitu bangun dan belum sikat gigi suami langsung laporan pagi: "Aku kasih makan ikan dulu ya."
Seakan-akan kolamnya sendiri aja. Btw, makanan ikan bisa diminta di pegawai guest house. 

Sarapan pagi juga tersedia jam 6 sampai jam 9 pagi. Di hari sebelumnya, pegawai guest house akan bertanya mau sarapan rawon, soto, atau nasi goreng. Saya paling suka sotonya. Enak! Untuk sarapan, ada dining room sederhana seperti ini:

Kita bisa makan pagi di meja-meja bulet itu. Atau bisa juga makan di pinggir kolam koi. Cozy abis.
Foto dari website-nya nih.
Ada lantai duanya juga, tetapi saya tidak naik berhubung perut saya sudah semakin berat.

Tangga menuju lantai 2. Kamar "Praktek" itu bukan kamar praktek dokter ya. Itu kamar penginapan juga.


Eh hampir lupa, ada satu kejadian horor serem sih. Si Adek dan Mama kan tidur di kamar Terrace. Pagi-pagi si Adek nemuin hp-nya yang lagi di-charge pindah colokan. Maka bertanyalah dia ke Mama, "Ma, Mama pindah chargerku ya?"

Mama menjawab tidak.

Lalu mereka berdua menjerit keras.

Kesimpulannya: Di samping peristiwa kepindahan charger yang sampai sekarang belum jelas duduk berdirinya itu, Peye Guest House ini boleh banget kalian intip-intip kalo lagi cari penginapan dengan biaya affordable di Malang. Ini ada websitenya untuk kontaknya dan foto-fotonya juga: www.peye.biz

Well, kalian ada rekomendasi Guest House atau Hotel lain yang juga oke di Malang? Cerita dong :)

Tuesday, November 25, 2014

Deadline Itu Bernama Melahirkan

Bukankah hidup selalu dipenuhi deadline?

Sejak kita kecil, kita sudah terbiasa dengan deadline. Di sekolah, misalnya, tes dan ulangan bermakna deadline waktu kita belajar. Dan ketika waktu habis tetapi kita belum selesai belajar, maka kita mencontek maka kita pasrah mendapat nilai jelek. Selain itu, ada juga tugas dan proyek yang harus dikumpulkan, dan guru selalu memberi deadline. Jika pengumpulan lewat dari deadline, ada diskon nilai =D

Kita memang dipenuhi deadline saat masih belajar, mulai dari Sekolah Dasar sampai kuliah. Lalu saat bekerja, kita makin dikejar-kejar deadline. Dan deadline di pekerjaan berbeda dari sekolah. Di sekolah, jika tidak memenuhi deadline, resikonya sekedar nilai jelek. Di pekerjaan, jika tidak memenuhi deadline, resikonya adalah terancam dipecat sampai rasa malu karena tidak berhasil mengukir prestasi diri.

Lalu muncullah deadline-deadline yang kita buat sendiri, untuk memacu kita supaya mencapai sesuatu. Bukan hanya untuk mencapai sesuatu sih, tapi yang terpenting: untuk mendorong kita memulai sesuatu. Misalnya, deadline harus punya uang banyak atau punya kendaraan atau bahkan rumah sebelum usia tertentu. Atau, deadline harus menikah sebelum usia tertentu. Apakah deadline ini memacu diri kita? Mungkin. Apakah membuat stress? Ya, terutama buat para jomblo. Hihihi... (Sungguh, menikah itu mana bisa sih dijadikan deadline? Let's save this topic for another post.)

Saya sendiri juga merasa hidup saya sendiri juga dipenuhi deadline. Bukan hanya di pekerjaan, tetapi juga di rumah. Menyediakan baju bersih di lemari untuk keluarga saja juga bisa menjadi deadline untuk mencuci baju. *keliatan malesnya deh*

Tetapi deadline saat ini yang paling mendesak adalah proyek menerjemahkan buku yang sedang saya kerjakan. Bayangkan, deadline-nya adalah sebelum saya melahirkan, karena setelah melahirkan tidak mungkin proyek itu bisa tersentuh. Yang saya khawatirkan, bagaimana jika si buntelan di dalam rahim ini memutuskan menggoda emaknya dan lahir lebih cepat dari jadwal. Sepertinya ngga mungkin saya menyusui atau ganti popok sambil mengetik terjemahan.

Diriku paling kanan itu waktu usia kandungan 20 minggu.
Eh bisa sekalian OOTD nih. *maklum, cita-cita jadi fashion blogger ga kesampean*
Tank top: MNG Suit lungsuran dari ponakan
Jegging: Dorothy Perkins kekecilan yang dipermak sambung kain batik oleh Mama
Watch: DKNY hadiah dari Pak Swami
Jadi, begitulah. Deadline saya saat ini bernama melahirkan. Sekarang usia kandungan 35 minggu. Jadi tolong ya, nak buntelan, please make yourself comfortable inside me. I just need a couple more weeks to finish this book.

Bagaimana dengan yang lain? Kalian sedang punya proyek apa dan deadline-nya apa? Cerita dong :)