Thursday, August 28, 2014

Chocolate Cyst. No, This Is Not A Recipe Post.

If you read my previous post on trying to conceive, you know that my husband and I went to see the ob/gyn to try to get me pregnant. By my husband, I mean. Not by the ob/gyn. Of course. You know what I mean.

Anyway, the first visit was in September 2012, and on the next visit (October 2012), the ob/gyn prescribed me the contraception pills (Diane) for three months to help maintain my imbalanced hormonal level. The medication was heaven, actually, at least for my skin. I was no longer an acne-prone wife when I regularly consumed Diane.

In January 2013, after I had stopped taking the contraception pills and my male hormone did not run amok anymore--I had it tested, the doctor prescribed me Utrogestan, which is a kind of fertilizer in the hope enlarging my egg cells and causing them to ovulate. And the transvaginal USG result did not disappoint either. My egg cells were quite big, not big enough, but at least bigger than they had usually been. Take a peek at my inside:

The left ovary still had small eggs, but the right ovary had two bigger eggs!
The USG result was a good sign, and the Utrogestan was given to make them even bigger. The doctor then gave us some possible ovulation dates to try to get me pregnant, and asked us to go back to see him the next month to check if we were successful.

It was a happy moment! Hope, at last!

But, maybe not. The next month, in February 2013, I got the usual menstruation and I went to see the doctor. As if the disappointment of failure was not enough, the transvaginal USG showed us something else: I developed a chocolate cyst.

Yeah, that's a real cyst. And it's chocolate, too.
You can see the cyst in the right ovary, and its inside was not clear liquid, which was a bad sign. It is called chocolate cyst and although the diameter is only about 2.5 cm, the doctor suggested to have it removed because it distracted my TTC program, and it's just not healthy to have that kind of ovary cyst.

The removal procedure is called laparoscopy, and we checked the cost. It was a hefty 20 million rupiahs, at least.

Sigh.

Naturally, we searched for a second and third opinion, but that's another story. In short, I didn't do the surgery because it wasn't the only way. I kept on taking some medicine for a couple of months, went to a very nice lady, who lived so far away, for acupuncture treatments, and also drank lots and lots of Chinese herbal medicine.

Fast forward one year to March 2014, I still had the chocolate cyst. And I was still barren with little eggs. And I was fed up with going to the doctor or taking Metformin--which gave me nausea, everyday. I was exhausted. 

Wednesday, August 20, 2014

PCOS. Polycystic What??

Saat calon suami dan saya bertemu dengan pastor sebelum menikah, ada satu pertanyaan standar dari beliau yang harus dijawab semua pasangan yang akan menikah: "Bagaimana jika tidak dikaruniai anak?"

Saat itu akhir tahun 2010, dan saya tidak siap menjawab pertanyaan itu. Setelah itu calon suami juga berkata, "Ngga pernah terpikir ya ngga punya anak? Masa sih kita ngga dapet anak?"

Kami menikah di awal tahun 2011 dan tidak ngebet cepat punya anak. Santai gitu, ingin menikmati masa pacaran berdua dahulu. Jadi kami on dan off dalam menggunakan "pengaman." Tetapi setelah dua tahun tidak tekdung (baca: mengandung) juga, saya mulai curiga. Jangan-jangan saya atau suami tidak subur.

Di akhir 2012, kami merasa sudah siap punya anak dan memutuskan ke dokter untuk memeriksakan kesuburan. Kami ke dr. Frans O. H. Prasetyadi, Obstetrician & Gynecologist (Subspecialist in Maternal Fetal Medicine) yang praktek di Jl. Diponegoro, Surabaya (sekarang sudah pindah tempat prakteknya).

Beliau melakukan USG transvaginal (itu tuh, liat-liat keadaan di dalam rahim, juga indung telur kanan dan kiri melalui alat yang dimasukkan lewat vagina -- jangan takut, ladies, ngga sakit kok) dan memberi tahu bahwa sementara saya diduga menderita PCOS (Polycystic Ovarium Syndrome). Ciri paling awal terlihat dari hasil USG ini:

Kelihatan bayangan bulat-bulat kecil warna hitam? Nah itu sel-sel telur saya. Di wanita normal akan terlihat satu sel telur saja dengan ukuran agar besar. Nah, di saya, sel-sel telur berukuran kecil, tidak berkembang, dan jumlahnya banyak.


Selanjutnya, saya diminta tes hormon di lab, dan suami diminta tes sperma di lab. Setelah itu, kami kembali ke dr. Frans dan beliau memastikan saya terkena PCOS karena diagnosa saya terkena PCOS ditegakkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Hasil USG yang memperlihatkan gejala PCOS - sel telur saya tampaknya tidak pernah berkembang dan matang! Pantas tidak bisa dibuahi.
  2. Hormon laki-laki yang hyper - Dari hasil tes hormon testosteron saya 0,593 ng/mL (normalnya 0,084-0,481 ng/mL)
  3. Gejala-gejala PCOS lain: tumbuh pola bulu seperti pria (yes, saya termasuk golongan wanita iis dahlia), siklus menstruasi yang terlalu panjang (siklus saya sekitar 40 hari), jerawat dewasa.
Masih ada beberapa gejala PCOS lain, yang bisa dicek di situs Mayo Clinic ini dan juga sumber-sumber lain, yang tidak saya alami.


Mengenal PCOS
Jadi apa sih PCOS itu? Menurut Mayo Clinic, Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang cukup umum dialami wanita usia reproduksi. Nama PCOS diambil dari penampakan dalam indung telur yang seperti memiliki banyak kista kecil (polycystic) -- jangan takut, ini bukan benar-benar kista.

Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti. Diagnosa awal dan penanganan awal bukan hanya berguna untuk wanita PCOS yang ingin memiliki anak, tapi juga mengurangi resiko komplikasi jangka panjang seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Pengobatan PCOS
Saat itu dr. Frans memberikan saya 2 macam obat yaitu:
1. Metformin (obatnya orang diabetes) untuk menurunkan resistensi insulin. Ternyata hormon insulin itu berperan dalam fungsi ovulasi yang baik, dan wanita PCOS biasanya resisten terhadap insulin.
2. Pil KB selama 3 bulan untuk menormalkan hormon laki-laki saya yang ngelunjak.

Harapan bagi Penderita PCOS
dr. Frans menyampaikan bahwa penderita PCOS bukan tidak bisa mengandung. Ada orang-orang yang tidak diobati tetapi berhasil ovulasi sendiri dan bisa mengandung. Tetapi ada pula yang sudah diobati selama bertahun-tahun tetapi tidak berhasil juga. Beberapa hal yang harus kita usahakan untuk mengatasi PCOS:
  1. Rajin minum obat sesuai anjuran dokter
  2. Lifestyle sangat penting, terutama dalam hal makanan dan berolahraga. Lain kali saya akan share mengenai hal ini.
Sepulang dari dokter hari itu, suami dan saya melakukan pembicaraan yang cukup serius ini:
Saya: Gimana kalo aku memang ngga bisa hamil?
Suami: Bisa, bisa.
Saya: Loh, ini kan pengandaian. Gimana kalo ngga bisa?
Suami: Ya, ngga apa-apa. Kita pacaran terus.
XD