Thursday, November 27, 2014

Review: Peye Guest House, Malang

Weekend lalu saya dan keluarga diundang ke pernikahan sepupu di Malang, dan diinapkan di Peye Guest House. Karena cukup terkesan dengan Guest House ini, maka saya menulis review. Semoga bisa jadi referensi buat teman-teman yang mencari Guest House di Malang ya.

Peye Guest House ini terletak di Jl. Simpang Dieng no. 1, Malang. Cukup mudah dicari sih, dia ada di dekat Plaza Dieng. Google Maps juga sangat jelas menunjukkan jalan ini.

Demikian penampakan depan Guest House-nya:

Peye Guest House tampak depan. Ada yang bisa baca tulisan hanacaraka di atas itu?
Kami semua yang menginap sudah lupa pelajaran Bahasa Jawa.

Lalu saat masuk kami disambut pengumuman ini:

Coba perhatikan logo Peye Guest House ini.

Sudah diperhatikan logonya? Nah, logo ini memicu perdebatan di antara kami sekeluarga. Apakah "Peye" dibaca seperti "peyek," temennya pecel itu loh, atau dibaca "peye," seperti huruf p dan y normal, ataukah dibaca "piyik," seperti logonya yang adalah anak ayam? Eh, tapi logonya itu anak bebek atau anak ayam sih? Anyway, kami sepakat memutuskan namanya adalah "Piyik" Guest House. Sungguh sebuah misteri kenapa sebuah Guest House dinamai anak ayam.

Misteri lain adalah nama-nama kamarnya:

Coba perhatikan nama-nama kamarnya. Ada nama-nama bunga, juga ada nama pelawak. Saya tidak paham.

Saya dan suami mendapat kamar Pantry. Bayangkan. Kami tinggal di Pantry, yang ternyata adalah salah satu kamar paling mahal, karena bisa diisi tiga orang. Oke deh, nama kamarnya saya maafkan.

Bukti kami tinggal di Pantry.

Bagian dalam kamar Pantry. Ranjang double dan ranjang single.
Foto dari website-nya si Peye.

Yang saya suka dari Peye Guest House ini adalah karena begitu masuk kamar, kamarnya terasa bersih dan baunya segar. Kan ada tuh kamar-kamar guest house atau hotel yang bau apek. Sprei dan ranjang juga segar dan tidak ada bau aneh sama sekali. Kamar mandi pun bersih dan nyaman dengan air panas, amenities, dan handuk baru yang diganti setiap hari.

Suasana di dalam Guest House ini juga dibuat alami, cocok sekali dengan udara kota Malang yang sejuk:

Pagi-pagi begitu bangun dan belum sikat gigi suami langsung laporan pagi: "Aku kasih makan ikan dulu ya."
Seakan-akan kolamnya sendiri aja. Btw, makanan ikan bisa diminta di pegawai guest house. 

Sarapan pagi juga tersedia jam 6 sampai jam 9 pagi. Di hari sebelumnya, pegawai guest house akan bertanya mau sarapan rawon, soto, atau nasi goreng. Saya paling suka sotonya. Enak! Untuk sarapan, ada dining room sederhana seperti ini:

Kita bisa makan pagi di meja-meja bulet itu. Atau bisa juga makan di pinggir kolam koi. Cozy abis.
Foto dari website-nya nih.
Ada lantai duanya juga, tetapi saya tidak naik berhubung perut saya sudah semakin berat.

Tangga menuju lantai 2. Kamar "Praktek" itu bukan kamar praktek dokter ya. Itu kamar penginapan juga.


Eh hampir lupa, ada satu kejadian horor serem sih. Si Adek dan Mama kan tidur di kamar Terrace. Pagi-pagi si Adek nemuin hp-nya yang lagi di-charge pindah colokan. Maka bertanyalah dia ke Mama, "Ma, Mama pindah chargerku ya?"

Mama menjawab tidak.

Lalu mereka berdua menjerit keras.

Kesimpulannya: Di samping peristiwa kepindahan charger yang sampai sekarang belum jelas duduk berdirinya itu, Peye Guest House ini boleh banget kalian intip-intip kalo lagi cari penginapan dengan biaya affordable di Malang. Ini ada websitenya untuk kontaknya dan foto-fotonya juga: www.peye.biz

Well, kalian ada rekomendasi Guest House atau Hotel lain yang juga oke di Malang? Cerita dong :)

Tuesday, November 25, 2014

Deadline Itu Bernama Melahirkan

Bukankah hidup selalu dipenuhi deadline?

Sejak kita kecil, kita sudah terbiasa dengan deadline. Di sekolah, misalnya, tes dan ulangan bermakna deadline waktu kita belajar. Dan ketika waktu habis tetapi kita belum selesai belajar, maka kita mencontek maka kita pasrah mendapat nilai jelek. Selain itu, ada juga tugas dan proyek yang harus dikumpulkan, dan guru selalu memberi deadline. Jika pengumpulan lewat dari deadline, ada diskon nilai =D

Kita memang dipenuhi deadline saat masih belajar, mulai dari Sekolah Dasar sampai kuliah. Lalu saat bekerja, kita makin dikejar-kejar deadline. Dan deadline di pekerjaan berbeda dari sekolah. Di sekolah, jika tidak memenuhi deadline, resikonya sekedar nilai jelek. Di pekerjaan, jika tidak memenuhi deadline, resikonya adalah terancam dipecat sampai rasa malu karena tidak berhasil mengukir prestasi diri.

Lalu muncullah deadline-deadline yang kita buat sendiri, untuk memacu kita supaya mencapai sesuatu. Bukan hanya untuk mencapai sesuatu sih, tapi yang terpenting: untuk mendorong kita memulai sesuatu. Misalnya, deadline harus punya uang banyak atau punya kendaraan atau bahkan rumah sebelum usia tertentu. Atau, deadline harus menikah sebelum usia tertentu. Apakah deadline ini memacu diri kita? Mungkin. Apakah membuat stress? Ya, terutama buat para jomblo. Hihihi... (Sungguh, menikah itu mana bisa sih dijadikan deadline? Let's save this topic for another post.)

Saya sendiri juga merasa hidup saya sendiri juga dipenuhi deadline. Bukan hanya di pekerjaan, tetapi juga di rumah. Menyediakan baju bersih di lemari untuk keluarga saja juga bisa menjadi deadline untuk mencuci baju. *keliatan malesnya deh*

Tetapi deadline saat ini yang paling mendesak adalah proyek menerjemahkan buku yang sedang saya kerjakan. Bayangkan, deadline-nya adalah sebelum saya melahirkan, karena setelah melahirkan tidak mungkin proyek itu bisa tersentuh. Yang saya khawatirkan, bagaimana jika si buntelan di dalam rahim ini memutuskan menggoda emaknya dan lahir lebih cepat dari jadwal. Sepertinya ngga mungkin saya menyusui atau ganti popok sambil mengetik terjemahan.

Diriku paling kanan itu waktu usia kandungan 20 minggu.
Eh bisa sekalian OOTD nih. *maklum, cita-cita jadi fashion blogger ga kesampean*
Tank top: MNG Suit lungsuran dari ponakan
Jegging: Dorothy Perkins kekecilan yang dipermak sambung kain batik oleh Mama
Watch: DKNY hadiah dari Pak Swami
Jadi, begitulah. Deadline saya saat ini bernama melahirkan. Sekarang usia kandungan 35 minggu. Jadi tolong ya, nak buntelan, please make yourself comfortable inside me. I just need a couple more weeks to finish this book.

Bagaimana dengan yang lain? Kalian sedang punya proyek apa dan deadline-nya apa? Cerita dong :)

Monday, October 27, 2014

Product Review: Bio-Oil

Salah satu hal yang pasti dipikirkan oleh ibu-ibu hamil adalah: bagaimana cara mencegah stretch marks? Sudah bukan rumor lagi bahwa dalam proses hamil dan melahirkan, tubuh wanita akan berubah: membesar, kulitnya menggelambir, keluar garis-garis macan (baca: stretch mark) di perut, paha, pantat, payudara, pokoknya bisa langsung ikut pesta Halloween deh.

Jadi apa sebenarnya stretch mark itu?

Saya suka deskripsi sederhana dari webmd ini:
Stretch marks happen when your body grows faster than your skin can keep up with. This causes the elastic fibers just under the surface of the skin to break, resulting in stretch marks.
Jika kita google how to get rid of stretch marks, banyak sekali cara dan produk yang tersebar di Internet. Tapi jujur, saya belum menemukan satupun testimony jujur yang bisa saya percaya mengenai keberhasilan mengubah kulit lorek macan kembali ke kulit manusia.

Apalagi webmd juga memberi peringatan kejam ini:
Unfortunately, there’s no way to prevent stretch marks. There’s not a cream, lotion, or “mommy” balm that can do that -- and if that’s the claim on the bottle, don’t be fooled.
Kejam nian bukan? Tapi, wth, masa sih saya sebagai wanita kemayu ini ngga berusaha mencegah stretch marks? Meskipun tidak bisa menghilangkan stretch marks yang sudah ada, paling tidak saya berusaha mencegahnya kan? Dan setelah membuang-buang waktu untuk browsing dengan tekun, saya memutuskan untuk mencegah si lorek putih ini dengan Bio-Oil yang sudah nge-hip dan nge-hype.

Bio-Oil 120 ml

Karena harga PO (pre-order) di olshop-olshop yang cukup mahal yaitu IDR 190,000 untuk 60 ml, maka saya berinisiatif beli sendiri dari US, langsung beli tiga yang @120 ml supaya menghemat ongkir. Saya hanya pakai 1 sih, yang 2 lagi ada temen yang (untungnya) mau. Sayangnya harga yang saya bayar akhirnya tidak jauh beda dengan harga PO di olshop, gara-gara pengiriman dilakukan dengan FedEx dan terkena pajak. (Cerita soal FedEx kapan-kapan deh).

Kalo kata website-nya, bahan utamanya dia adalah PurCellin Oil™ (whatever that is), (yang lucunya tidak bisa ditemukan di halaman ingredients-nya). Anyway, gunanya Bio-Oil adalah untuk mengurangi kondisi kulit berikut ini (asal pakenya rajin 2 kali sehari dan minimal 3 bulan, kata webnya yaaaa):
  • Scars
  • Stretch marks
  • Uneven skin tone
  • Aging skin
  • Dehydrated skin


Sekarang waktunya review!

Tekstur: Tidak terlalu cair, tapi tidak kental juga. Cepat meresap dan tidak terlalu lengket. Suka!

Wangi: Enak menenangkan! Tidak terlalu harum. Saya ngga suka yang harum sangat.

Hemat: Lumayan hemat karena dua kali crot crot ke perut aja sudah bisa untuk seluruh perut. Selanjutnya satu kali crot ke tangan bisa untuk pantat dan sisanya untuk paha. Saya memang tidak suka pakai lotion/cream/oil terlalu banyak sih karena tidak suka lengket-lengket.

Khasiat: Nah, yang ini belum ketahuan. yang pasti, saya mulai pakai Bio-Oil ini sejak bulan kedua kehamilan, sekarang saya ada di bulan ketujuh (30 minggu) dan belum muncul satu stretch marks pun. Tapi kan memang stretch marks  munculnya di bulan 8 atau 9, atau bahkan baru terlihat setelah melahirkan, setelah perut agak mengempis.

Repurchase? No, karena duileh sebotol 120 ml itu ternyata banyak amir... Saya sudah pakai selama hampir setengah tahun dan baru berkurang seginih:

Sisa seginih bisa saya buat apa enaknya ya...

Recommended? So far sih iya.

Nah, bagaimana nanti seandainya sudah melakukan pencegahan seperti ini tetapi nanti tetap ada stretch marks? I'LL BE PROUD OF THEM :) Bagaimanapun juga, itu kan tanda-tandi di kulit yang terjadi karena saya memilih untuk menggembol si buntelan lucu (yang sekarang sepertinya sedang hobi koprol sambil silat di dalam rahim). Garis-garis itu akan jadi tanda cinta kami!

Di internet banyak juga blog, instagram, dan artikel yang berisi encouragement buat para wanita untuk bangga terhadap stretch marks. I particularly like this one on instagram: http://instagram.com/loveyourlines



Terakhir, akan saya beri tahu rahasia besar jika kalian masih mau beli Bio-Oil: Guardian sekarang jual Bio-Oil dan jualnya oh, so cheap! Behold:

Hanya Rp 120.000 untuk kemasan 60 ml!!
So, how about you? Ada tips mencegah stretch marks? Ada pendapat soal stretch marks? Ada review soal Bio-Oil? Monggo komentar di blog ini ya.


Thursday, October 9, 2014

#golkusederhana

Apa tujuan hidupmu?

Ini mungkin adalah salah satu pertanyaan paling filosofis yang ada. Jawabannya pun bisa cukup klise seperti "ingin bahagia" atau cukup agamawi seperti "ingin hidup memuliakan Tuhan."

Not that they are wrong answers. Punya tujuan hidup sangat penting, seperti wejangan si bijak Chesire Cat ketika ngobrol dengan Alice di dunia gila mereka:



Masalahnya biasanya kita hanya punya tujuan hidup yang muluk tanpa memikirkan harus lewat jalan yang mana untuk bisa berjalan ke sana. Lalu tujuan hidup itu pun terbengkalai karena kita letakkan di awan-awan, sementara kita hanya berjalan-jalan di bumi. Ngga akan nyampe-nyampe dong,

Lalu bagaimana?

Saya berusaha memecahkan masalah ini dengan mem-break down tujuan hidup muluk saya menjadi beberapa tujuan hidup jangka panjang, yang lalu saya break down lagi menjadi tujuan hidup jangka pendek.

Setelah punya tujuan hidup jangka pendek, ternyata jadi lebih mudah untuk melihat jalan-jalan yang harus dilewati untuk sampai ke sana. Supaya konsisten terus berjalan, saya membuat proyek kecil untuk diri saya sendiri, yang saya beri judul #golkusederhana.

#golkusederhana ini adalah rutinitas yang harus saya taati sampai menjadi kebiasaan yang baik. After all, I believe that habits become you. Dan saya benar-benar mulai dari hal yang sangat sederhana:

#golkusederhana: TIDAK TELAT MASUK KANTOR. 


Ini adalah bagian dari tujuan hidup jangka pendek saya: hidup dengan lebih teratur dan disiplin. Saya bukannya selalu terlambat ke kantor, tetapi selalu saja ada hari-hari dalam seminggu ketika saya menempelkan jari telunjuk ke mesin fingerprint, mesin itu mengejek saya dengan memamerkan angka 07:01 atau 07:02. (Yes, my office starts at 7, people!)

Lucu sekali, hanya dengan membuat proyek kecil ini, saya sangat terpacu untuk bangun lebih pagi, dan dengan bangga saya umumkan, sejak dimulai:

oalah typo ternyata haha...

saya hanya gagal di 3 hari pertama dan gagal di 2-3 hari karena keadaan darurat (seperti telat bangun, hp hang sehingga alarm tidak berbunyi, mules di pagi hari) selama hampir sebulan ini! Yayness!

Jadi, berikut ada beberapa tips untuk memiliki gol dan actually melakukannya:
  1. Bikin gol yang specific dan attainable.
  2. Tuliskan gol ini somewhere, preferably at social media supaya terasa ada tanggung jawab publik getoh. (Padahal ga ada juga yang baca tweet saya hoahahaha)
  3. Yakinkan diri bahwa punya gol itu sangat bermanfaat dan memberi kita rasa puas tersendiri ketika kita berhasil!
Jadi, siapa yang mau ikut punya #golkusederhana?


Disclaimer: Oh well, meskipun sudah menulis panjang lebar tentang tujuan hidup dan gol, saya belajar untuk selalu siap dikejutkan oleh kehidupan. Yang berarti tujuan hidup rancangan saya bisa menjadi berantakan, dan saya harus menata ulang semuanya lagi. Anyway, that's what gets life exciting, right? ^__^




Monday, September 29, 2014

Kecetit! Saat Mengandung

Saat masuk ke bulan ke-4 kehamilan, saya kecetit. Bahasa kerennya muscle spasm, otot tegang dan kaku. Lokasi kecetit saya di punggung kiri atas dan sakitnya bukan main. Diam sakit, gerak sakit. Mau berbaring tidak bisa sendiri, mau bangun tidak bisa sendiri.

Yang sakit itu lokasinya di sekitar rhomboid muscles itu.
Gambar diambil dari sini


Dulu saya sudah sudah pernah kecetit di lokasi yang sama. Setelah ditusuk jarum dan minum muscle relaxer dari dokter, saya sembuh. Tapi rupanya kali ini tidak bisa semudah itu. Saat saya ke RS Adi Husada berharap disembuhkan oleh ahli akunpuntur dr. Yudhi Perdana, beliau menyampaikan bahwa wanita hamil, terutama untuk yang kandungannya masih di trimester pertama, ternyata tidak boleh ditusuk jarum, tidak boleh diurut, tidak boleh dipijat, tidak boleh minum muscle relaxer, tidak boleh dioles balsem dan ointment. Dokter hanya merekomendasikan minyak telon saja.

Pak dokter akunpuntur, menurut saya minyak telon itu cuma harum-harum bayi saja. Tidak akan menolong. Huhu.

Dua hari saya menderita, merepotkan semua orang di rumah. Lalu tiba-tiba saya teringat: mengapa tidak konsultasi ke dokter kandungan saya saja? Pesan singkat saya yang penuh keputusasaan dibalas oleh dr. Didi Darmahadi Dewanto, SpOG dengan cukup cepat.

"Minum DOLO NEUROBION, Bu. 3x1. Aman untuk kehamilan."

Itu pesan singkat dari sorga. Isi obat itu hanya beberapa macam vitamin B dan parasetamol, yang memang aman untuk ibu hamil. Vitamin B membuat otot lebih rileks, dan parasetamol mengurangi rasa sakitnya. Saya jadi bisa menggerak-gerakkan tubuh, dan si adek dokter bilang kalo muscle spasm memang harus digerak-gerakkan. Jika didiamkan saja akan makin kaku dan tidak akan sembuh.

Setelah konsumsi obat tersebut selama 1.5 hari, saya sembuh! Dan marilah kita mengambil hikmah dari kejadian yang cukup menyiksa ini: kita harus tahu ke mana mencari informasi yang benar :) Dan untuk mencegah kecetit lagi, saya berjanji akan lebih rutin berolahraga. Tapi nanti saja, setelah dibolehkan berolahraga oleh pak dokter ^.^

Monday, September 22, 2014

Pilih testpack yang mahal atau yang murah?

Post ini lanjutan dari post sebelumnya.

Karena hasil testpack pertama tidak jelas, besoknya saya ulangi lagi saat bangun pagi (testpack paling baik menggunakan pipis pertama setelah bangun tidur. Jangan tanya prosedurnya. Messy!). Dan hasilnya: tetap tidak jelas!

Hasil testpack pagi-pagi buta tanggal 4 Mei 2014 dan 5 Mei 2014
For your information, testpack yang saya gunakan adalah merk OneMed, yang terkenal sebagai testpack paling murah seantero dunia Surabaya. Si dedek dokter yang menyarankan beli ini karena katanya dokter-dokter kalo ngetes juga pakenya si murah meriah OneMed ini. Psstt, harganya sekitar 2,000 rupiah aja per strip!

Tapi 'kan kita sering dengar kalo barang terlalu murah kualitasnya kurang bagus, jadi eike penasaran juga pengen coba testpack yang lebih mahal. Mungkin hasilnya lebih jelas. Lalu si mamah menyarankan tes langsung aja di lab, kalo positif, sore langsung ke obgyn biar bisa dikasih vitamin dan kawan-kawannya.

Maka berangkatlah saya pagi-pagi sebelum ngantor ke laboratium Parahita. Tesnya cukup mahal, kalo ngga salah ingat sekitar 70,000 rupiah. Saya sudah membayangkan tesnya canggih dan begini begitu, tapi ternyata sore harinya saat saya mengambil hasil:

JEJENNGG... Rupanya 70rb rupiah itu pipis saya cuman ditetesin ke testpack juga.
Dan hasilnya juga sama aja: satu garis tegas dan satu garis samar!

Dang! I should've listened to the doctor in the family! A waste of money? Engga lah... Apa sih yang engga buat baby? (Waduh, bentar lagi spamming promosi produk bayi dan tawaran segala macam asuransi sampai sandal berlabel pendidikan bisa membanjir).

Tapi sebenarnya bagaimana cara kerja testpack? Mengapa ada yang mahal dan ada yang murah? Ada yang sepertinya akurat ada yang tidak?

Testpack mengukur kadar hormon hCG, yang hanya muncul di orang yang sedang hamil. Hormon ini ada di sekitar 12 minggu pertama kehamilan, lalu menghilang, digantikan hormon-hormon lainnya. hCG paling berlimpah di sekitar usia kehamilan 8-10 minggu. Itu sebabnya biasanya harus tunggu telat menstruasi 1-2 minggu dulu baru testpack bisa terlihat positif. 

Nah, testpack yang mahal punya klaim mampu mendeteksi hormon hCG meskipun kadarnya masih sangat rendah. Itu sebabnya testpack mahal terasa lebih akurat karena baru saja telat (atau bahkan sebelum telat), hasil testpack sudah terbaca positif (jika memang hamil). Dan karena hormon hCG paling tinggi saat bangun pagi, testpack yang mahal juga punya klaim tes tidak harus dilakukan pagi-pagi. Ini bisa sangat berguna untuk para wanita yang jika bangun pagi mengalami disorientasi parah, yang bisa berakibat pipis tidak akurat masuk ke wadah. 

Jadi, pilih testpack mahal atau murah kalo lain kali saya hamil lagi? (Halah, kelahiran anak pertama juga belum!!) Kalo mau pake yang murah, ya harus tunggu sampai telat menstruasi dulu. Begitu. Harus sabar.

And, oh yeah, ternyata penderita PCOS seperti saya bisa berhasil mengandung! Mungkin berkat PCOS Diet yang saya jalankan. Mungkin berkat timbunan Glucophage/Metformin yang sudah saya minum setahun lebih. Mungkin juga Tuhan memang memutuskan demikian. Well, praise the Lord :)

Monday, September 15, 2014

Roti dan Pasta Masih Enak!

Perhatian: Ini bukan post tentang review makanan. Ini masih post mengenai berusaha hamil :D

Yang masih mau baca silahkan lanjut:

Roti dan pasta masih enak! Itu yang saya teriakkan dalam hati ketika membaca-baca mengenai diet penderita PCOS. Lewat browsing, blogwalking, dan banyak forumwalking, saya menyadari banyak sekali pihak yang swear to diet and lifestyle untuk menstabilkan hormon-hormon yang menggila di penderita PCOS. Ada yang berhasil menjinakkan hormonnya dan berhasil hamil, tetapi ada pula yang tidak berhasil. Tapi hampir semua pihak mengingatkan pentingnya diet dan lifestyle, selain tetap mengkonsumsi obat yang disarankan dokter, terutama Metformin/Glucophage.

I wonder why the three doctors who I've consulted to never mentioned about this. Anyway...

Lifestyle
Karena penderita PCOS cenderung resisten terhadap insulin, maka dari itu cenderung overweight--meskipun bisa juga underweight, seperti saya--salah satu healthy lifestyle yang paling penting adalah berolahraga dengan teratur.

Selain itu tentu saja healthy lifestyle yang umum lainnya harus dipatuhi: istirahat cukup, minum banyak, tidak stres, dan lain-lain yang masuk akal.

PCOS Diet
Sekarang kita masuk ke bagian yang mengerikan: PCOS Diet.
  • Dairy free - berarti tidak boleh ada produk susu sama sekali (read why here)
  • Gluten free - berarti tidak boleh hampir semua macam roti, semua macam pasta, dan segala macam kue dll berbahan tepung-tepungan. This is hard!
  • Limit your carbohydrate - berarti ngga boleh banyak-banyak nasi
  • Processed food - berarti hindari apapun yang instan ataupun dalam kemasan
  • Limit your sugar, fat, and soy - yes, soya/kedelai juga menyebabkan ovulasi telat, jadi hindari segala macam kecap, tahu, dan tempe
Makan apa dong???

Meskipun tampaknya tidak masuk akal, tapi saya berhasil lumayan ketat melaksanakan PCOS Diet ini selama hampir 2 bulan. Kira-kira begini pola makan saya:
Breakfast: buah potong atau jus, atau jus sayur (saya beli produk jus sayur merk K-Link dan juga Melilea. Dipikir-pikir mahal sekali sih produk ini. Kalo rajin, bisa jus sayur sendiri.)
Lunch: di kantor disediakan lunch yang hampir selalu berisi nasi, sayur, dan lauk. Dulu sayur tidak pernah saya sentuh dan nasi selalu habis. Tapi selama menjalani diet ini, nasi saya kurangi setengah, dan karena masih lapar, sayurnya selalu saya habiskan. Yay!
Dinner: makanan sehat catering di si mamah ^__^
Pokoknya serasa jadi kelinci deh
Saya mulai diet ini sekitar awal Maret 2014. Tanggal 26 Maret 2014 saya periksa ke ob/gyn dan sel-sel telur saya masih kecil, hormon saya masih tidak balance, dan kista masih ada. Dokter menyarankan bayi tabung. Karena biayanya yang mencapai 50 juta atau bahkan lebih, suami dan saya minta waktu untuk berpikir. Dokter menyarankan bulan depan saat menstruasi saya USG lagi untuk periksa.

Dengan siklus sekitar 5 minggu, akhir April 2014 adalah jadwal menstruasi saya. Saya menunggu-nunggu dia datang supaya bisa bikin jadwal ke ob/gyn. Tetapi dia tidak kunjung datang. Sebetulnya saya bosan test pack, karena terlalu sering hasilnya negatif, tetapi saat itu saya penasaran juga.

Tanggal 4 Mei saya pun test pack sendiri di rumah:


Kata petunjuknya, 2 garis artinya positif, 1 garis artinya negatif. Lah kalo 1 garis jelas dan 1 garis super samar, apa artinya?

Wait for my next post!


Friday, September 12, 2014

Sangat Ingin Hamil? Tidak Juga

Apakah saya sangat ingin hamil? Tidak juga.

Saya merasa diberi anak atau tidak adalah hak Yang di Atas. Dan saya tidak merasa kurang sebagai wanita hanya karena tidak punya anak. Saya merasa cukup bahagia, dan sudah cukup sibuk, dengan hidup childless saya.

Jika ada orang-orang yang bertanya apakah saya menunda? Mengapa saya tidak punya anak? Saya juga bisa menjawab dengan tenang tanpa ada sakit hati atau perasaan insecure.

Tetapi apakah saya mencegah kehamilan karena tidak begitu ingin hamil? Tidak juga. I keep my womb open XD. Jika saatnya diberi kepercayaan mengasuh anak, saya tahu itu keputusan-Nya yang terbaik.

Namun kenyamanan saya justru runtuh di saat saya melihat teman-teman saya hamil ataupun melahirkan. Ada sesuatu yang surgawi saat mereka membicarakan kebahagiaan mereka (dan juga kerepotan mereka mengurus si baby), saat mereka memasang foto-foto bersama si newborn yang keriput dan menangis.

Dan kenyamanan saya goyah. Ada suatu saat di mana tiba-tiba ada perasaan yang sangat overwhelming di dada, yang memaksa saya menangis (padahal lagi nyetir, bahaya!) dan berdoa pada Tuhan: "Aku kangen anakku, aku pengen ketemu anakku. How long are You gonna keep us apart?"

Saya juga tahu kenyamanan saya goyah saat saya iri, dan bahkan benci, mendengar kabar teman yang hamil atau melahirkan. Pengakuan: bahkan saya sempat benci dengan seorang teman baik saat mengetahui dia hamil. If you read this, I'm so so so sorry.

Dan juga saya sempat emosi-emosi sendiri dengan orang-orang yang komplain karena mengalami masalah saat kehamilan. SAYA AJA GA BISA HAMIL!

Maafkan.
Apakah ini peer pressure? Mungkin. Saya tidak tahu. Atau mungkin ini gara-gara hormon saya? Mungkin juga. Untungnya, saat-saat insecure itu jarang datang. Saya tetap bisa senang dan bahagia dengan kehidupan childless saya.

Oh well, jika merenungkan saat-saat emotional turmoil itu, ternyata saya pernah sangat menginginkan anak juga ya. Ternyata saya punya naluri keibuan ^__^

Thursday, August 28, 2014

Chocolate Cyst. No, This Is Not A Recipe Post.

If you read my previous post on trying to conceive, you know that my husband and I went to see the ob/gyn to try to get me pregnant. By my husband, I mean. Not by the ob/gyn. Of course. You know what I mean.

Anyway, the first visit was in September 2012, and on the next visit (October 2012), the ob/gyn prescribed me the contraception pills (Diane) for three months to help maintain my imbalanced hormonal level. The medication was heaven, actually, at least for my skin. I was no longer an acne-prone wife when I regularly consumed Diane.

In January 2013, after I had stopped taking the contraception pills and my male hormone did not run amok anymore--I had it tested, the doctor prescribed me Utrogestan, which is a kind of fertilizer in the hope enlarging my egg cells and causing them to ovulate. And the transvaginal USG result did not disappoint either. My egg cells were quite big, not big enough, but at least bigger than they had usually been. Take a peek at my inside:

The left ovary still had small eggs, but the right ovary had two bigger eggs!
The USG result was a good sign, and the Utrogestan was given to make them even bigger. The doctor then gave us some possible ovulation dates to try to get me pregnant, and asked us to go back to see him the next month to check if we were successful.

It was a happy moment! Hope, at last!

But, maybe not. The next month, in February 2013, I got the usual menstruation and I went to see the doctor. As if the disappointment of failure was not enough, the transvaginal USG showed us something else: I developed a chocolate cyst.

Yeah, that's a real cyst. And it's chocolate, too.
You can see the cyst in the right ovary, and its inside was not clear liquid, which was a bad sign. It is called chocolate cyst and although the diameter is only about 2.5 cm, the doctor suggested to have it removed because it distracted my TTC program, and it's just not healthy to have that kind of ovary cyst.

The removal procedure is called laparoscopy, and we checked the cost. It was a hefty 20 million rupiahs, at least.

Sigh.

Naturally, we searched for a second and third opinion, but that's another story. In short, I didn't do the surgery because it wasn't the only way. I kept on taking some medicine for a couple of months, went to a very nice lady, who lived so far away, for acupuncture treatments, and also drank lots and lots of Chinese herbal medicine.

Fast forward one year to March 2014, I still had the chocolate cyst. And I was still barren with little eggs. And I was fed up with going to the doctor or taking Metformin--which gave me nausea, everyday. I was exhausted. 

Wednesday, August 20, 2014

PCOS. Polycystic What??

Saat calon suami dan saya bertemu dengan pastor sebelum menikah, ada satu pertanyaan standar dari beliau yang harus dijawab semua pasangan yang akan menikah: "Bagaimana jika tidak dikaruniai anak?"

Saat itu akhir tahun 2010, dan saya tidak siap menjawab pertanyaan itu. Setelah itu calon suami juga berkata, "Ngga pernah terpikir ya ngga punya anak? Masa sih kita ngga dapet anak?"

Kami menikah di awal tahun 2011 dan tidak ngebet cepat punya anak. Santai gitu, ingin menikmati masa pacaran berdua dahulu. Jadi kami on dan off dalam menggunakan "pengaman." Tetapi setelah dua tahun tidak tekdung (baca: mengandung) juga, saya mulai curiga. Jangan-jangan saya atau suami tidak subur.

Di akhir 2012, kami merasa sudah siap punya anak dan memutuskan ke dokter untuk memeriksakan kesuburan. Kami ke dr. Frans O. H. Prasetyadi, Obstetrician & Gynecologist (Subspecialist in Maternal Fetal Medicine) yang praktek di Jl. Diponegoro, Surabaya (sekarang sudah pindah tempat prakteknya).

Beliau melakukan USG transvaginal (itu tuh, liat-liat keadaan di dalam rahim, juga indung telur kanan dan kiri melalui alat yang dimasukkan lewat vagina -- jangan takut, ladies, ngga sakit kok) dan memberi tahu bahwa sementara saya diduga menderita PCOS (Polycystic Ovarium Syndrome). Ciri paling awal terlihat dari hasil USG ini:

Kelihatan bayangan bulat-bulat kecil warna hitam? Nah itu sel-sel telur saya. Di wanita normal akan terlihat satu sel telur saja dengan ukuran agar besar. Nah, di saya, sel-sel telur berukuran kecil, tidak berkembang, dan jumlahnya banyak.


Selanjutnya, saya diminta tes hormon di lab, dan suami diminta tes sperma di lab. Setelah itu, kami kembali ke dr. Frans dan beliau memastikan saya terkena PCOS karena diagnosa saya terkena PCOS ditegakkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Hasil USG yang memperlihatkan gejala PCOS - sel telur saya tampaknya tidak pernah berkembang dan matang! Pantas tidak bisa dibuahi.
  2. Hormon laki-laki yang hyper - Dari hasil tes hormon testosteron saya 0,593 ng/mL (normalnya 0,084-0,481 ng/mL)
  3. Gejala-gejala PCOS lain: tumbuh pola bulu seperti pria (yes, saya termasuk golongan wanita iis dahlia), siklus menstruasi yang terlalu panjang (siklus saya sekitar 40 hari), jerawat dewasa.
Masih ada beberapa gejala PCOS lain, yang bisa dicek di situs Mayo Clinic ini dan juga sumber-sumber lain, yang tidak saya alami.


Mengenal PCOS
Jadi apa sih PCOS itu? Menurut Mayo Clinic, Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang cukup umum dialami wanita usia reproduksi. Nama PCOS diambil dari penampakan dalam indung telur yang seperti memiliki banyak kista kecil (polycystic) -- jangan takut, ini bukan benar-benar kista.

Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti. Diagnosa awal dan penanganan awal bukan hanya berguna untuk wanita PCOS yang ingin memiliki anak, tapi juga mengurangi resiko komplikasi jangka panjang seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Pengobatan PCOS
Saat itu dr. Frans memberikan saya 2 macam obat yaitu:
1. Metformin (obatnya orang diabetes) untuk menurunkan resistensi insulin. Ternyata hormon insulin itu berperan dalam fungsi ovulasi yang baik, dan wanita PCOS biasanya resisten terhadap insulin.
2. Pil KB selama 3 bulan untuk menormalkan hormon laki-laki saya yang ngelunjak.

Harapan bagi Penderita PCOS
dr. Frans menyampaikan bahwa penderita PCOS bukan tidak bisa mengandung. Ada orang-orang yang tidak diobati tetapi berhasil ovulasi sendiri dan bisa mengandung. Tetapi ada pula yang sudah diobati selama bertahun-tahun tetapi tidak berhasil juga. Beberapa hal yang harus kita usahakan untuk mengatasi PCOS:
  1. Rajin minum obat sesuai anjuran dokter
  2. Lifestyle sangat penting, terutama dalam hal makanan dan berolahraga. Lain kali saya akan share mengenai hal ini.
Sepulang dari dokter hari itu, suami dan saya melakukan pembicaraan yang cukup serius ini:
Saya: Gimana kalo aku memang ngga bisa hamil?
Suami: Bisa, bisa.
Saya: Loh, ini kan pengandaian. Gimana kalo ngga bisa?
Suami: Ya, ngga apa-apa. Kita pacaran terus.
XD

Friday, March 28, 2014

Using Up My Luck

Can we use up our luck, I wonder? (Before we go on, however, we have to believe first that there exists such thing called luck, which I find very handy in overcoming envy).

The thing is that sometimes we really, really want and need luck in a dire situation, and we do not get that much-needed luck. At another time, however, we can get very lucky when the situation does not call for such pot of gold by the end of the rainbow.

Yesterday I had myself checked at an obgyn to see if there is something wrong with my fertility. Because last year's check showed small infertile eggs and a chocolate cyst, I prayed for luck.

Before I got to know the result, an email popped on my yahoo mail (yes, I'm still using yahoo mail, and I promise I'll migrate everything to gmail soon). The email told me that I was the lucky winner of an Internet contest. I was very lucky, indeed. The contest only asked the participants to click on some celebrities. So there I was, the sole winner of clicking the face of some worldly idols.

Ooh, I got a bad feeling. If I was so lucky to win the contest, I'm afraid that I'll not be lucky in other things that day. One can never be so lucky in all things, right? Sure enough, later that evening, my USG result showed that I still got small, infertile eggs and a chocolate cyst.

So now I wonder. Have I used up my luck on that contest? Oh boy, how I long to be able to solve this enigma of how luck works. If only luck can be stored and used later like some magical items in RPGs. I'll save them all and use them wisely.

So, what about you? How has luck treated you?

If I had a good luck charm, it will be Yotsuba, this four-leaf-clover-head girl.
What? You never read Yostuba? Go read it already!

Tuesday, March 25, 2014

Melaporkan Diri Setiap Tahun

Warga negara yang baik membayar pajak. Dan sebagai warga negara Indonesia yang baik, bukankah setiap bulan Maret (akhir Maret, tepatnya) kita semua heboh mengisi SPT (Surat Pemberitahuan) tahun sebelumnya?

Di akhir maret tahun ini saya mencoba mengumpulkan SPT saya secara online. Ini adalah fasilitas terbaru dari Direktorat Jenderal Pajak Indonesia. Sweet, right? Tidak perlu repot-repot lagi mengantarkan SPT ke kantor pajak. Dan penghitungannya otomatis asal kita tahu di mana memasukkan angka-angkanya.

Untuk menjadi e-filer, istilah keren Wajib Pajak (ini kita) yang melaporkan SPT melalui e-filing, kita harus mendapatkan e-FIN (electronic Filing Identification Number) terlebih dahulu. Nah, e-FIN ini gunanya hanya untuk pertama kali registrasi.

Cara registrasi:

  1. Masuk ke https://efiling.pajak.go.id/registrasi
  2. Isi kolom-kolom  yang diminta: NPWP, EFIN, nomor telepon, alamat email, password
  3. Cek email untuk link aktivasi
  4. Lalu kita masuk kembali ke laman web efiling yaitu https://efiling.pajak.go.id dengan NPWP sebagai username dan password yang kita buat untuk mengisi SPT secara online.
Mudah sekali, kan :) Tapi mungkin mengisinya yang tidak mudah ya. Saya harus mengisi Formulir 1770 S (karena saya bekerja di 2 tempat) dan saya sedang frustrasi mengisinya haha..

Setelah selesai mengisi, nanti kita akan minta kode verifikasi, mendapatkannya di email, lalu kode itu kita isikan saat mengirimkan SPT secara online. Dan sekarang saya bertambah frustrasi karena sudah mengisikan kode verifikasi tapi laman web-nya diam seribu bahasa. Come on, saya ngga bisa ngerti kalo kamu diem aja, say...

Terakhir kita akan mendapatkan "Bukti Penerimaan Elektronik" di email kita.

Gambar ini diambil dari situs resmi pajak.go.id. Entah mengapa gambarnya pecah, dan entah mengapa maskotnya adalah lebah bersepatu olahraga, dan entah mengapa font-nya juga jelek.


Oh well, selamat melaporkan diri!




Wednesday, January 22, 2014

2014 Resolution Theme: Be Frugal!

So, finally, I came up with a New Year's Resolution. It is 22 days late, but they say it's better to be late than never, right?

Because the purchase of the new house have made me poor having to save enough money each month to pay for the mortgage, I decide that this year's resolution theme is: BE FRUGAL.

There is, of course, a lot of ways to be frugal, but for now I'll post this one resolution: This year I'll have to hit pans. Hopefully I will not buy more makeup and skincare thingy because I'll have to focus on hitting pans. 

Here are the first items that I promise to use religiously everyday.  

1. Clarins White Plus Sea Lily Enriched SPF 20 PA+++
2. Shiseido Sun Protection Compact Foundation SPF 34 PA+++ in a too big Etude casing
3. Milani Power Blush in Luminous (the dupe of NARS O)
4. Oriflame Tender Care in Almond (the only thing I'd buy from Oriflame)
(You can see how important sunscreen is for me. Btw, SPF protects us from UVB, while PA protects us from UVA, and +++ is the strongest now available.)

I think the most difficult item to hit pan is the blush. But I'll just have to try!

Now, this picture of body butters below is not a result of impulsive buying, trust me. They are all gifts. But how would a girl hit pan of so many body butters? (And I don't like the sticky feeling they give!) I really want to finish all these because I want to try Natur-E body lotion.

Solution: All the girls in my office use these together!

My skin is so sticky rich from all these sticky body butters.
Well, wish me all the determination I need. I'll post again if this mission succeeds ;)