Tuesday, November 25, 2014

Deadline Itu Bernama Melahirkan

Bukankah hidup selalu dipenuhi deadline?

Sejak kita kecil, kita sudah terbiasa dengan deadline. Di sekolah, misalnya, tes dan ulangan bermakna deadline waktu kita belajar. Dan ketika waktu habis tetapi kita belum selesai belajar, maka kita mencontek maka kita pasrah mendapat nilai jelek. Selain itu, ada juga tugas dan proyek yang harus dikumpulkan, dan guru selalu memberi deadline. Jika pengumpulan lewat dari deadline, ada diskon nilai =D

Kita memang dipenuhi deadline saat masih belajar, mulai dari Sekolah Dasar sampai kuliah. Lalu saat bekerja, kita makin dikejar-kejar deadline. Dan deadline di pekerjaan berbeda dari sekolah. Di sekolah, jika tidak memenuhi deadline, resikonya sekedar nilai jelek. Di pekerjaan, jika tidak memenuhi deadline, resikonya adalah terancam dipecat sampai rasa malu karena tidak berhasil mengukir prestasi diri.

Lalu muncullah deadline-deadline yang kita buat sendiri, untuk memacu kita supaya mencapai sesuatu. Bukan hanya untuk mencapai sesuatu sih, tapi yang terpenting: untuk mendorong kita memulai sesuatu. Misalnya, deadline harus punya uang banyak atau punya kendaraan atau bahkan rumah sebelum usia tertentu. Atau, deadline harus menikah sebelum usia tertentu. Apakah deadline ini memacu diri kita? Mungkin. Apakah membuat stress? Ya, terutama buat para jomblo. Hihihi... (Sungguh, menikah itu mana bisa sih dijadikan deadline? Let's save this topic for another post.)

Saya sendiri juga merasa hidup saya sendiri juga dipenuhi deadline. Bukan hanya di pekerjaan, tetapi juga di rumah. Menyediakan baju bersih di lemari untuk keluarga saja juga bisa menjadi deadline untuk mencuci baju. *keliatan malesnya deh*

Tetapi deadline saat ini yang paling mendesak adalah proyek menerjemahkan buku yang sedang saya kerjakan. Bayangkan, deadline-nya adalah sebelum saya melahirkan, karena setelah melahirkan tidak mungkin proyek itu bisa tersentuh. Yang saya khawatirkan, bagaimana jika si buntelan di dalam rahim ini memutuskan menggoda emaknya dan lahir lebih cepat dari jadwal. Sepertinya ngga mungkin saya menyusui atau ganti popok sambil mengetik terjemahan.

Diriku paling kanan itu waktu usia kandungan 20 minggu.
Eh bisa sekalian OOTD nih. *maklum, cita-cita jadi fashion blogger ga kesampean*
Tank top: MNG Suit lungsuran dari ponakan
Jegging: Dorothy Perkins kekecilan yang dipermak sambung kain batik oleh Mama
Watch: DKNY hadiah dari Pak Swami
Jadi, begitulah. Deadline saya saat ini bernama melahirkan. Sekarang usia kandungan 35 minggu. Jadi tolong ya, nak buntelan, please make yourself comfortable inside me. I just need a couple more weeks to finish this book.

Bagaimana dengan yang lain? Kalian sedang punya proyek apa dan deadline-nya apa? Cerita dong :)

No comments:

Post a Comment